Tentang Program AJI Indonesia dengan UNESCO
Berkolaborasi dengan Forum Alumni Aktivis Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) dan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) serta didukung oleh UNESCO, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengadakan program peningkatan literasi media dan informasi (Media and Information Literacy/MIL) yang berfokus pada penguatan kapasitas lembaga pers mahasiswa di Indonesia.
Program ini lahir dari kesadaran bahwa dalam ekosistem perguruan tinggi, pers mahasiswa memiliki peran strategis dalam melawan penyebaran konten berbahaya, misinformasi, dan ujaran kebencian di ruang digital. Sebagai media independen yang digerakkan oleh orang muda, pers mahasiswa berperan penting dalam membangun budaya berpikir kritis, analitis, dan beretika. Mereka tidak hanya menyoroti isu-isu seputar kehidupan kampus, tetapi juga menjadi penghubung antara dunia akademik dan persoalan sosial yang lebih luas di masyarakat. Dengan semangat idealisme dan independensinya, pers mahasiswa berpotensi menjadi garda depan dalam memperkuat kesadaran literasi media di kalangan generasi muda.
Melalui kolaborasi ini, AJI Indonesia, UNESCO, FAA PPMI, dan PPMI berupaya menghadirkan ruang belajar dan berbagi bagi pers mahasiswa untuk meningkatkan kapasitas profesional, memperkuat keamanan digital, serta memperluas pemahaman tentang etika jurnalistik di era informasi yang semakin kompleks. Program ini diharapkan mampu memperkuat peran pers mahasiswa sebagai agen perubahan dalam menciptakan ekosistem informasi yang lebih sehat, inklusif, dan bertanggung jawab di lingkungan perguruan tinggi maupun masyarakat luas.
Pentingnya Literasi Media
Di tengah arus informasi yang begitu deras di era digital, kemampuan untuk memahami, menilai, dan memproduksi informasi secara kritis menjadi kebutuhan mendasar bagi setiap individu. Literasi media dan informasi (Media and Information Literacy/MIL) bukan sekadar kemampuan teknis untuk mengakses media, tetapi juga mencakup kesadaran etis, analitis, dan reflektif dalam menyikapi berbagai pesan yang kita temui setiap hari.
Dalam konteks sosial saat ini, misinformasi, disinformasi, dan ujaran kebencian sering kali menyebar lebih cepat daripada fakta itu sendiri. Kondisi ini menuntut masyarakat, khususnya kalangan muda dan mahasiswa, untuk memiliki kemampuan memilah informasi yang kredibel, memahami konteks di balik sebuah narasi, serta menggunakan media secara bertanggung jawab.
Literasi media menjadi pondasi penting bagi demokrasi dan keberlanjutan masyarakat yang berpengetahuan. Melalui literasi media, publik tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga partisipan aktif dalam membentuk ruang digital yang sehat, terbuka, dan inklusif. Dengan demikian, penguatan literasi media bukan hanya tentang melawan hoaks, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif untuk menggunakan informasi sebagai alat perubahan sosial yang positif.
Training of Trainer (ToT), Seminar, dan Workshop
Sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas dan kesadaran literasi media di kalangan jurnalis muda dan pers mahasiswa, AJI Indonesia bersama UNESCO telah melaksanakan rangkaian kegiatan yang saling terhubung dan berkesinambungan.
Kegiatan dimulai dengan Training of Trainer (ToT) yang menghadirkan para pakar dan jurnalis senior yang tergabung dalam Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) untuk membahas tantangan literasi media di era digital saat ini. ToT ini menjadi pertemuan awal para jurnalis dan pakar yang menjadi trainer pada workshop MIL. Pada pertemuan ini pun memberikan bekal pemahaman dan menyamakan pandangan terkait isu MIL.
Selanjutnya, program dilanjutkan dengan Seminar “Memperkuat Perlindungan terhadap Pers Mahasiswa di Era Digital” di Kediri, yang bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran pers mahasiswa terhadap tantangan serta risiko yang dihadapi di era digital, termasuk ancaman terhadap kebebasan berekspresi, keamanan digital, dan perlindungan data pribadi. Selain itu juga bertujuan untuk membekali peserta dengan pengetahuan untuk melindungi diri dari ancaman digital maupun fisik, serta membangun sistem keamanan yang mendukung keberlanjutan kerja-kerja jurnalistik pers mahasiswa.
